Hari ini mau nge-post 2 judul boleh ya? :)
Tulisan pertama tadi kan tentang persahabatan yang terpisah jarak dan waktu,
kalo yang kali ini, ini tentang.... perjuangan mempertahankan pertemanan.
Coba di sadarin deh, sebenernya selama ini juga kita ngga pernah deket kan.
Cuma ya buat menyebutmu teman, itu emang ngga sulit buatku karena kita tinggal di sebuah asrama yang mewajibkan kita untuk mengenal satu sama lain, walaupun asrama putra dan putri di pisah.
Nah, menurutku, pertemanan kita memang hanya sebatas saling mengenal. Eh, salah. Sepertinya hanya aku yang mengenalmu, sedangkan kamu.. tidak sama sekali.
Awalnya, banyak hal yang ngedorong aku pengen akrab dan sahabatan sama kamu. Image mu di otakku sebenernya positif loh. Cuma yang namanya waktu emang nunjukin banyak hal ke aku. Terutama tentang kamu.
Banyak orang yang mulai membencimu, karena kata-katamu kerap kali menyakitkan hati mereka. Namun aku tidak. Aku masih tetap tak bergeming dengan tekadku untuk bersahabat denganmu. Aku selalu berkata kepada setiap orang yang kamu sakiti, "Ah mungkin kata-katanya itu hanya sebuah canda."
Atau bahkan kepada orang-orang yang muak akan gayamu, "Ah mungkin maksudnya bukan pamer, cari perhatian, atau apapun."
Kamu juga sering menyakiti hatiku, sering mengolok-olokku dengan kata-kata kasar dan tak pantas untuk di ucap. Pernah juga kamu mengeluarkan kata-kata yang melanggar batas kehidupan pribadiku.
Tapi SADARLAH, aku masih tetap berniat untuk menjalin persahabatan denganmu.
Mungkin kamu tidak menganggapku sahabatmu, atau bahkan temanmu. Setiap usahaku seperti menawarkan telinga di saat kamu sedang sedih juga tidak ada artinya untukmu.
Ada rasa iba di saat semua teman menyudutkanmu dan kamu harus menangis meminta maaf di depan mereka. Ada rasa iba di saat kamu harus berpergian kemanapun seorang diri disaat yang lain selalu mempunyai teman disampingnya. Ada rasa iba saat (bahkan) wanita yang kau cintai pun enggan berhubungan denganmu lagi.
Namun, waktu menyadarkanku. Keinginanku untuk bersahabat denganmu hilang sudah. Seberapa banyak penyesalan, permintaanmaaf, dan juga air matamu di depan teman-teman yang mengoreksi dirimu, seolah palsu di mataku. Kamu, tidak pernah bisa berubah menjadi lebih baik.
Banyak orang yang bilang, sabar itu ada batasnya. Benar sekali. Seperti aku yang akhirnya benar-benar menjadi tidak cukup kuat untuk menghadapi kata-kata mu yang menyakitiku. Yang selalu menghinaku, entah itu bercanda maupun tidak bercanda.
Untukmu
mantan-temanku, maaf kalau sekarang aku hanya melenggang tanpa senyuman apabila kita bertemu di kampus. Semua teman yang ada di sekitarmu, bagiku semuanya temanku, namun kamu tidak lagi. Dengan sangat rendah hati, aku ingin meminta maaf dan aku ingin dengan jujur mengakui bahwa
aku membencimu. Terimakasih banyak untuk hinaan yang secara sadar dan tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, dan bercanda ataupun tidak bercanda sudah pernah kamu lontarkan padaku. Percayalah, apabila tiba waktunya kita memang harus berdamai, aku akan benar-benar menerima perdamaian itu. Namun, bukan untuk melupakan apa yang pernah terlontar dari mulutmu kepadaku.
Untukmu
mantan-temanku, ubahlah dirimu. Bukalah mata dan hatimu. Sadarilah, sebenarnya banyak orang yang peduli padamu. Jangan malah kamu balas mereka dengan kata-kata sadis yang menusuk hati. Jangan juga kamu berdalih bahwa itu sebuah candaan, atau kalau memang itu benar-benar caramu bercanda, aku berterimakasih padamu karena kamu membantuku menemukan satu alasan lagi mengapa aku dan orang-orang di sekitar mu
harus membencimu.
*** ini benar-benar posting terpanjang, terdetail, dan terfrontal saya sepanjang saya menulis blog***